Air Hujan pun Sangat Berharga

Air merupakan unsur kehidupan penting bagi siapapun di Dunia ini, tidak terkecuali dengan penduduk pesisir barat Aceh yang sebagian besar terkena dampak tsunami. Tsunami sudah mengancurkan seluruh aspek kehidupan termasuk sumber air. Sebelum tsunami mereka masih menikmati air segar dari sumur mereka. Setelah tsunami hampir sebagian besar sumber air tercemar dan tidak bening lagi.

Desa Mata Ie - Kec. Sampoinet - Kab. Aceh JayaSebuah desa yang saya kunjungi pada Juni 2007 adalah desa Mata Ie (MI), kecamatan Sampoinet, kabupaten Aceh Jaya. Desa MI termasuk desa baru, dimana penduduknya merupakan pindahan penduduk dari desa-desa yang hancur karena tsunami. Penduduk mendapatkan tanah pekarangan dan tanah garapan dari hibah desa lain. Walaupun menurut lokasi desa MI merupakan tetangga desa Cot Langsat atau Babah Nipah tetapi untuk mesuk ke desa MI tidak bisa lewat kedua desa tersebut, kecuali dengan motor roda dua maupun dengan perahu karena jalan yang menghubungkan ke dua desa dengan desa MI terkikis banjir/pasang. Sehingga untuk menjangkau desa MI harus mengambil jalan memutar (lebih dari 5 km). Walaupun desa MI merupakan desa baru tetapi jalan utama menuju desa tersebut tergolong bagus, terutama dibandingkan dengan jalan utama Calang ke Aceh Besar (yang dibangun BRR-USAid). Kemungkinan jalan bagus ini dikarenakan jarangnya kendaraan (terutama kendaraan besar) yang melewati desa tersebut.

Saya, Claire dan keluarga Koordinator Desa Mata-Ie

Di desa MI saya dan tim bertemu dengan koordinator desa dan sekretaris desa (kebetulan keuchik tidak di tempat). Seperti biasa, mereka ramah dan secangkir kopi hitam aceh udah siap dinikmati. Hampir semua keluarga tinggal di rumah sementara dari British Canadian RedCross (CRC) berupa rumah kayu dengan rangka dan atap dari besi khusus. Secara kontruksi, rumah sementara tersebut sangat kokoh, atap dari besi khusus-pun tidak membuat rumah jadi panas. Atap Besi Rumah SementaraRencana mereka akan diberikan rumah permanen yang akan dibangun oleh Canadian RedCross (CRC), tetapi saat itu belum ada pembangunan rumah permanen.

Untuk urusan air, mereka masih mengandalkan air sumur biasa. Sebagian besar menggunakan sumur cincin (terlindung) dengan kedalaman dekitar 2.5 – 3 meter dari permukaan tanah. Sebagian kecil masih menggunakan sumur tradisional. Tetapi sebagian mutu air sumur tidak baik dimana air masih agak keruh terutama musim hujan, rasa agak asin. Ada keluhan juga air keruh tersebut juga membuat sakit gatal-gatal untuk anak. Untuk mengatasi air keruh ini masyarakat membuat filter air sederhana.Filter Air

Sumber air yang menurut mereka masih baik adalah sumber air hujan. Hampir setiap rumah menyediakan tempat menampung air hujan. Kebetulan sekali atap rumah yang berupa besi/seng khusus tersebut tidak mudah berkarat, merupakan alat untuk menampung air hujan. Selain itu atap setiap rumah dilengakapi dengan talang dengan bahan yang sama ditambah dengan bahan PVC untuk lubang pembuangan air hujan. Penduduk dengan kreasinya sendiri memasang selang air yang dihubungan dengan lubang PVC talang, sehingga air hujang tidak jatuh langsung ke tanah tetapi keluar melewati lubang PVC, masuk ke selang dan dialirkan ke dalam ember besar maupun jerigen plastik. Walaupun hujan tidak tiap jam turun tetapi setidaknya dalam sehari kadang-kadang turun hujan sebentar. Memang betul, sewaktu saya datang, cuaca panas; tetapi setelah ngobrol 30 menit, tiba-tiba turun hujan yang cukup deras walaupun sebentar.

Menampung Air Hujan dari Atap Rumah

Air hujan mereka gunakan terutama untuk minum dan masak. Untuk air minum mereka memasak air hujan tersebut sampai mendidih. Sedangkan untuk mandi/cuci mereka menggunakan air sumur yang ada.

Itulah salah satu temuan, bahwa air hujan yang mungkin di tempat kita hanya sebagai gangguan dalam aktivitas kita, tetapi dibelahan bumi lain, air hujan sangat berarti sangat mereka. Apapun harus disyukuri dan dinikmati, manusia yang kreatif akan lebih beradaptasi dibanding orang yang menerima sesuatu apa adanya.

3 Responses

  1. Saya pernahberkunjung ke desa Mata Ie dan kenel betul dengan penduduk desa tersebut. Rumah sementara (Temporary Shelter) di desa Mata Ie adalah dari Canadian Red Cross (CRC) dan International Federation Red Cross and Red Cressen (IFRC), bukan British Red Cross.

  2. Pak Adi Rahman, terima kasih atas koreksinya. Saya yang salah mengetik. Mohon Maaf.

  3. Perlunya penyaringan air hujan yang praktis dan bahan-bahannya mudah dicari

Leave a Reply