Balada Tukang Gerobak Air

Lokasi Sumber InformasiBeberapa waktu lalu saya melakukan wawancara mandiri (tanpa ada project apapun) dengan pengelola hidran percontohan di Lagoa, Koja, Jakarta Utara. Kebetulan letaknya sangat dekat dengan tempat tinggal saya. Hampir tiap pagi saya melihat banyak tukang gerobak air yang susah payah mendorong 14 jerigen air 20 literan dalam 1 gerobak besi, berjalan dengan sandal jepit dan melintasi jalan yang banyak polisi tidurnya. Gambar perjuangan rakyat kecil di pagi hari.

Mereka mulai usaha setelah subuh, sekitar jam 5 pagi. Mereka mendatangi hidran-hidran umum atau percontohan langganan mereka. Biasanya mereka tidak bisa pindah dari hidran satu ke hidran lainnya kecuali memang diijinkan. Jumlah hidran umum atau percontohan di satu wilayah RW tidak tentu jumlahnya, tergantung pada masyarakat yang ingin membangunnya dan tentunya atas seijin PDAM. Walaupun begitu menurut informasi dari lapangan ada beberapa hidran yang statusnya ilegal, dimana harusnya untuk rumah tangga tetapi dijual untuk umum. Mengenai hidran akan dibuat tulisan khusus nantinya.

Tukang AirKembali ke tukang air, dalam satu hari biasanya mereka 8 kali melakukan pengisian (4 kali di pagi dan 4 kali di sore hari). Dengan 8 rit tersebut, seorang tukang gerobak air sudah sangat lelah, kadang-kadang kalau mau nambah, air di hidran sudah habis karena pasokan dari PDAM terbatas, terutama musim kemarau.

Setiap pengambilan air (asumsi gerobak dengan 14 jerigen) mereka membayar kepada pemilik hidran sekitar Rp 1.500,- sampai Rp. 2.000,-. Kadang-kadang ada pemilik hidran yang minta uang air setiap bulan sekali, menurut informasi yang ada Rp 300,000,- samapai Rp. 400.000,- /bulannya, dan itu juga tergantung pada jumlah tagihan PDAM kepada pemilik Hidran, dengan kata lain tergantung volume air yang yang dikeluarkan oleh hidran.

Tukang gerobak air menjual airnya dalam satuan pikul (2 jerigen) maupun 1 gerobak sekaligus. Setiap pikul air (2×20 liter) dijual Rp. 1.500,- dan jika ada keluarga yang ingin beli air 1 gerobak, dihargai Rp. 10.000,-. Jadi keuntungan si tukang gerobak air tersebut tidak lebih dari Rp. 10.000,- atau dengan kata lain sehari mereka mendapatkan kurang dari Rp. 80.000,-. Untuk ukuran buruh kasar, keuntungan ini cukup lumayan sehingga di daerah Jakarta Utara (yang sumber airnya 99% dari PDAM), tidak sulit menemukan tukang gerobak air ini.

Sebenarnya keuntungan yang tidak lebih Rp. 80.000,- termasuk berat bagi mereka, karena tenaga yang mereka keluarkan untuk mendorong gerobak cukup banyak, belum kalau mikul air ke dalam rumah-rumah yang masuk ke lorong sempit atau menemui jalan yang tidak beraspal dan dipenuhi polisi tidur. Selain itu masih banyak rumah tangga yang ingin membeli air dengan cara ngutang dulu. Si tukang air juga tidak ada pilihan lagi, karena kalau tidak mereka juga bisa kehilangan pelanggan. Bayangin saja kalau si Tukang Gerobak sakit dan tidak bekerja, uang dari mana mereka bisa makan, sedangkan uang pendapatan jual hari setiap hari susah untuk disishkan masuk celengan. Memang berat!

2 Responses

  1. Mas Andi,
    manusia2 macam merekalah yang terus menjaga stamina saya untuk tetap hidup dan berkaraya. Terima kasih sudah mengawetkan mereka dalam sepotong tulisan. Salam kenal!

  2. Kebetulan aja emang pekerjaan saya untuk melihat sisi-sisi sosial spt itu. Terima kasih atas comment-nya dan salam kenal balik!
    Selamat berkarya!

Leave a Reply