
Pada perjalanan ke Aceh Jaya setahun yang lalu, ada beberapa pengalaman yang belum pernah saya rasakan. Salah satunya menikmati bagaimana suasana di dalam rumah sementara bantuan tsunami. Kebetulan daerah yang saya kunjungi adalah desa-desa di kecamatan teunom dimana sebagian besar rumah sementara dibangun oleh Palang Merah Canada (CRC). Rumah dengan ukuran 36m2 dengan dinding dan alas dari kayu, rangka besi berkualitas bagus, dan atap seng yang berkualitas juga yang mungkin jarang ditemukan di toko besi di Jakarta.
Untuk lantai rumah yang terbuat dari kayu, biasanya masyarakat melapisinya dengan plastik bermotif seperti ubin, tetapi untuk masyarakat yang kurang mampu biasanya hanya beralaskan tikar saja atau malah tanpa alas sama sekali (hanya kayu polos). Biasanya di dalam rumah tersebut dibagi 2 ruangan, ruangan tamu+keluarga dan ruang untuk tidur, disekat dengan triplex. Walaupun beratapkan seng, ternyata di dalam rumah sementara tidak sepanas yang kita bayangkan. Malah sangat sejuk jika pintu depan dan belakang rumah dibuka.
Saat ini rumah permanent sudah mulai dibangun, biasanya mereka bangun di depan rumah sementara supaya nantinya rumah sementara masih bisa digunakan. Jadi rumah sementara walaupun kecil dan dari kayu ternyata lebih nyaman dari rumah yang parmanen.
Filed under: Aceh | Tagged: Aceh, bantuan, perumahan, rumah, tsunami














