PPD 43 si “jagoan” jalanan!

I don’t Like Monday…

Pepatah klasik bagi “kuli” seperti saya ini sebenarnya inginĀ  sekali saya hilangkan pepatah ini dari tradisi bekerja saya. Tapi hari ini memang ada yang sangat menyebalkan, tidak hanya saya mungkin rekan-rekan saya yang berangkat kerja dari arah priok ke arah cawang.

Seperti biasa saya berangkat dengan motor, suasana menyenangkan, udara sejuk dengan sedikit mendung yang menaungi perjalanan ke kantor. Lalu lintas arah Cawang dari Priok seperti biasa tidak terlalu macet apalagi dibandingkan dengan arah berlawanan. Lepas dari flyover jalan Pemuda, tepatnya setelah lampu merah Pom Bensin, sebuah Bis PPD 43 dengan “gagah”-nya membunyikan klakson yang mengagetkan siapa saja yang didekatnya, termasuk saya. Dengan “gagah”-nya juga, PPD 43 warna hijau dengan bis bekas PPD-nya Jepang, ngebut tancap gas. Pertama kali saya mikir, “kurang kerjaan itu bus!”. Tetapi setelah itu baru ketahuan penyebabnya…ternyata PPD43 dengan Nomor B 7270 … (lupa belakang) mengejar PPD 43 lainnya yang lagi nurunkan penumpang. Sepertinya si 7270 ini ingin mendahului PPD lainnya berharap di depan dia dapat penumpang.

Benar juga, saya sebagai pengendara motor masuk jalur lambat sedangkan kedua “jagoan” kita masukjalur cepat. Dari jalur lambar terlihat kedua “jagoan” masih adu kekuatan di jalur cepat yang saat itu ada juga mobil-mobil yang “mengalah” untuk memberi “jalur” adu kekuatan keduanya.

Tapi sekencang apapun kedua “jagoan” kita beradu, tetap saja mereka takluk dengan pengendara motor termasuk saya yang tidak perlu berhenti untuk menurunkan penumpang. Pada saat rombongan motor termasuk saya sedang susah payak memacu motor pada jalur menanjak di atas jalan/rel Jatinegara, tiba-tiba kedua “jagoan” ini membunyikan klakson dari sisi belakang rombongan motor. Ternyata adu kekuatan makin manjadi-jadi. Satu bus PPD43 masuk jalur busway, yang satu di jalur biasa. Klakson keduanya sama-sama meraung-raung karena di jalur busway ada mobil yang agak lambat, dan dijalur biasa ada rombongan motor (termasuk saya). Motor-motor pada kocar-kacir “mengalah” dan mobil di jalur busway terpaksa ikut-ikutan ngebut karena dia tidak bisa pindah jalur. Yang lebih “hebat”-nya lagi setelah melewati rombongan motor dan mobil di jalan tanjakan tadi, kedua bus PPD berhenti disisi kanan untuk menurunkan penumpang tepatnya di atas jalan Jatinegara dekat halte busway. Terpaksa semua kendaraan pengguna jalan pada ngerem abis-abisan untuk berhenti karena penumpang keduanya harus menyebrang jalan di tempat yang sebenarnya bukan untuk menyeberang.

Kedua “jagoan” kita akhirnya masuk ke jalur busway kerana keduanya takut kena macet setelah itu. Disinilah saya tidak bisa melihat aksi adu kekuatan kedua “jagoan” ini, karena ternyata motorku sudah melesat meninggalkan “jagoan” yang musti berhenti untuk naik-turun penumpang. Alhasil saya lebih dahulu sampai di cawang dibandingkan kedua “jagoan” kita itu.

SO…apa separah itu kondisi PPD? tidak ada aturan di jalan? kenapa sesama PPD dengan jalur yang sama bisa bertemu dan beradu cepat? Jelas sekali bukan keselamatan penumpang sebagai prioritas utama, tetapi uang lah yang dikejar baik oleh pasangan sopir-kernet dan secara tidak langsung oleh manajemen PPD. Bagaimana PPD bisa maju kalau seperni ini terus.

Menyedihkan! I love Monday, but not today!

5 Responses

  1. Wow… balapannya seru juga. PPD seharusnya bikin kontes balapan bis aja biar hobi para pengemudi itu tersalurkan.
    Tapi jangan harap maju lah PPD mah, supirnya aja digaji telat.

    Anyway, I love monday as well.

  2. Setuju….saya bayanginnya kayak film SPEED, nggak boleh pakai kecepatan dibawah 60km/jam, trus musti lompatin tuch flyover yang belum jadi. Kan banyak tuch di Jakarta jalan kayak ginian. Pasti dech seru….sampai ancur juga boleh! He …. he…. (sadis yach).

    Nah salah satu masalah krn gaji tidak dibayar, sopir/kernet pada cari duit di jalan dengan main ngebut, main serobot utk cari penumpang. Kasihan penumpangnya kan! Saya yakin kalau mereka (penumpang) bisa memilih yang lebih baik dan terjangkau, pasti PPD mati dengan sendirinya.

  3. hahaha…ya seperti itulah potret tingkah laku warga kita, khususnya Jakarta. kadang supir2 itu yang paling menyuarakan susahnya jadi orang kecil ketika ada kebijakan pemerintah yang memberatkan mereka. Tapi, mereka sendiri tidak memikirkan susahnya jadi pengendara kecil, seperti motor atau mobil pribadi yang berhadapan dengan mereka.

  4. Betul…kayaknya si Supir tidak punya motor atau istri/anak/keluarganya tidak pernah naik motor. Tidak merasakan jadi wong cilik di jalanan!

  5. Wajar krn gaji dibawah UMR & sering terlambat

Leave a Reply