Hampir tiap tahun, daerah pengadilan pulomas tergenang banjir tepatnya disamping pintu masuk tol pulomas. Kadang-kadang jika hujan agak deraspun daerah ini termasuk daerah yang mudah banjir walaupun cuma menggenangi jalan raya saja.
Hampir setiap hari saya melewati jalan utama ini dari arah Tanjung Priok. Setelah lebaran tahun ini ada pemandangan yang berubah jika melewati flyover Cempaka Putih arah Cawang. Rumah-rumah kumuh di tepi danau Pulomas atau sering disebut kampung Pedongkelan, yang biasanya menjadi pemandangan kumuh daerah ini ternyata rata dengan tanah.
Dari dulu daerah kumuh ini sering bermasalah seperti banyaknya kasus kebakaran maupun. Kadang-kadang jika malam tiba, daerah ini pernah dipenuhi kabut asap karena pembakaran sampah-sampah keluarga yang memang tidak pernah diambil rutin oleh dinas kebersihan terkait.
Sekarang daerah tersebut bersih, hanya tinggal puing-puing bangunan non-permanen dan nun jauh disana masih terlihat rumah-rumah sederhana yang masih berdiri. Kemungkinan rumah tersebut bukan di daerah milik pengelola wilayah pulomas. Menurut kabar detikcom, penggusuran wilayah ini tidak mengalami kendala yang berarti, tidak seperti daerah lain. Pihak Pengelola Pulomas sendiri kabarnya sudah memberikan uang pindah 1 juta rupiah per KK.
Harapan sekarang tinggal kepada Pengelola Danau Pulomas dan Pemda DKI bagaimana Danau ini bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk penanggulangan banjir. Bulan Januari-Februari merupakan bulan banjir di Jakarta, sepertinya harapan kepada Danau ini untuk mencegah banjir tahun depan masih kecil. Danau ini menurut saya sangat potensial sebagai pencegah banjir karena jika danau ini diperluas dan diperdalam, hasilnya akan menampung banyak air limpahan dari jalan-jalan maupun saluran drainase sekitarnya jika hujan turun. Potensi pariwisatanya pun juga cukup mejanjikan, jika misalnya danau diperbaiki dan disekitarnya dibuat taman penghijauan, dengan jogging track mengelilingi danau ini, ada tempat bermaian anak-anak, pastilah temapat ini akan menajdi favorit keluarga sekaligus untuk pencegah banjir. Yach ini hanya impian seorang penduduk DKI yang tidak tahu apa-apa tetapi ingin hidup nyaman di DKI.
Semoga wilayah ini tidak dimanfaatkan menjadi tempat shoping/mall ataupun apartement yang memang lagi menajmur di Jakarta. Jika hal ini terjadi, saya akan ‘menundukan kepala’ jika melewati daerah ini. Jalur Tanjung Priok – Cawang akan terputus di daerah ini setiap tahunnya, hanya jalan tol yang bisa menyelamatkan kita. Saya berdoa supaya daerah Danau Pulomas ini diperuntukan sebagai daerah resapan plus daerah nyaman untuk rekreasi keluaraga di sekitarnya. Amin!
Filed under: Isu Sosial-Ekonomi, Lingkungan Tagged: | banjir, jakarta, pedongkelan, pulomas











